Secman Five Melatih Hati
Qalbun salim (kalbu yang selamat)
Kata salîm berasal dari verba
salima (selamat). Secara bahasa, qalb salîm adalah hati yang
selamat dari penyakit atau kerusakan apa pun. Adapun pengertian khususnya
adalah hati yang tidak mengenal selain Islam. Hati yang selamat adalah hati yang bebas dari
segala hal yang membahayakan manusia. Apabila kita melihat hati yang
selamat dari sisi ini, kita akan memahami maknanya secara lebih tepat. Hati
yang selamat harus bersih dari kekafiran, syirik, serta keraguan dan
kebimbangan. Hati yang penuh dengan kekafiran, betapapun pemiliknya berbuat
baik dan humanis, tetap tidak akan menjadi hati yang selamat. Banyak manusia berkata, “Hatiku bersih karena aku sangat mencintai manusia dan
selalu berusaha menolong mereka.” Ini adalah pengakuan kosong karena hatinya
berisi kekafiran dan pengingkaran. Hatinya bukanlah hati yang selamat dan
bersih, sebab ia mengingkari Pemilik dan Penguasa alam. Hatinya terisi oleh
pengingkaran tersebut. Mencintai manusia dan nilai-nilai kemanusiaan adalah
sesuatu yang baik dan penting, namun terlebih dahulu nilai-nilai kemanusiaan
harus dipahami secara benar kemudian pemahaman ini harus berkesinambungan dan
tidak terputus. Pemahaman semacam ini terkait dengan iman. Tanpa iman, segala
bentuk kebaikan, keindahan, dan kemuliaan hanyalah dusta atau sementara
sehingga tidak bernilai.
Bersih (selamat) dari kecurangan, dendam, dengki, kikir, kibir, hubbud dunia (cinta dunia) dan kedudukan. Jadi, dia selamat dari semua kotoran yang menjauhkannya dari Allah;
Selamat dari semua syubhat yang menyanggah beritaNya.
Selamat dari semua syahwat yang menantang perintahNya.
Selamat dari semua keinginan yang bersaing dengan apa yg di kehendakiNya.
Selamat dari penghalang yang menghentikannya dari Allah.
Qalbun salim harus bersih dari 5 hal :
1. Dari syirik, yang berlawanan dengan tauhid.
2. Dari bid’ah, yang berlawanan dengan sunnah
3. Dari syahwat, yang menyelisihi perintah
4. Dari kelalaian, yang berlawanan dengan dzikir
5. Dari hawa nafsu, yang berlawanan dengan upaya pemurnian dan keikhlasan.
Diantara tanda-tanda Qalbun Salim adalah :
A. Dia selamat dari rasa suka kepada hal yang tidak disukai oleh Allah.
B. Hati selalu mnggerakkan pemiliknya agar senaniasa bergantung Allah.
C. Hati itu tidak pernah putus mengingat Allah.
D. Apabila disodorkan kepadanya sesuatu yg buruk, maka ia menjauh
E. Jika satu saja amal taat luput dikerjakannya, dia merasa kehilangan dan sakit.
F. Dia selalu rindu ingin bertemu dengan Allah.
G. Setiap mulai shalat, hilang darinya kesedihan dan cemas terhadap urusan dunia.
H. Selalu menjaga waktunya untuk hal2 yg berguna,jauh dari yang sia-sia.
I. Perhatian untuk memperbaiki amal lbh besar drpada mengerjakan amalan itu sendiri.
Hati yang selamat dengan pengertian
ini sangatlah penting. Manusia mungkin melakukan banyak amal kebaikan, mungkin
ia telah bersikap ksatria dan banyak berkorban, namun yang harus
dipastikan adalah keselamatan hatinya dari kekafiran dan kemusyrikan.
Selanjutnya hati harus dimakmurkan dengan
Islam dan harus berhias akhlak Al-Quran. Apabila hati tidak dihiasi dengan
akhlak yang diperintahkan Al-Quran, ia bukan hati yang selamat. Hati manusia
menjadi selamat sesuai dengan seberapa baik ia mengikuti akhlak Rasul saw.,
karena beliau adalah sosok yang menampilkan akhlak Al-Quran dan seluruh
manifestasi hati yang selamat. Jika tidak mengikuti Rasul, janganlah menipu
diri. Kita berdoa kepada Allah Swt. agar Dia memberikan taufik kepada kita
untuk bisa mengikuti akhlak Rasul-Nya dan berahklak dengan akhlak beliau.
Kita berharap agar kaum mukmin yang
saat ini menunaikan pengabdian kepada Islam tidak membatasi pengabdian pada
masalah ibadah dan ketaatan semata serta tidak mengisi hati mereka hanya dengan
itu. Tetapi, pada waktu yang sama mereka harus siap untuk memberikan
pengorbanan moral maupun materi demi kebahagiaan dunia dan akhirat orang lain.
Mereka harus rela mengorbankan kenikmatan hidup guna membahagiakan orang lain
dan menyelamatkan kehidupan akhirat mereka.
Dalam Kitab Al-Hikam dijelas;
Tidak ada yang lebih bermanfaat
bagi kalbu sebagaimana uzlah, karena dengan memasuki uzlah (perenungan) pikiran
kita jadi luas.
Bagaimana hati dapat bersinar,
sementara gambar-gambar duniawi tetap terlukis dalam cermin hati itu? Atau,
bagaimana hati dapat berangkat menuju Allah, karena masih terbelenggu oleh
syahwatnya? Atau, bagaimana mungkin seseorang akan antusias menghadap kehadirat
Allah, pabila hatinya belum suci dari junub kelalaiannya? Atau bagaimana mungkin
seorang hamba bisa memahami kedalaman berbagai rahasia, sementara ia belum
bertaubat dari kesalahannya?
TIDAK
ADA YANG SELAMAT DI HARI ESOK (KIAMAT) KECUALI YANG DATANG DENGAN MEMBAWA HATI
YANG BERSIH. (Makna firman Allah Surah Asy syu`ara ayat 88-89)
Hati Bersih, Hidup Sejahtera, Mati Bahagia

